Kamis, 26 September 2013

Singkawang, Kota Seribu Vihara

Singkawang, Kota Seribu Vihara


Picture1Konon, suatu hari ketika sedang bersantai menikmati acara televisi, ada seorang anak gadis kecil bertanya kepada ibunya. “Ibu apakah nama pulau terkecil di dunia?”, kemudian sang ibu menjawab bahwa nama pulau terkecil di dunia adalah “Pulau HOPE” atau “Pulau HARAPAN”. Dahulu jawaban seperti itu dianggap benar akan tapi sekarang setelah diakui dan tercatat oleh Persatuan Bangsa Bangsa maka jawaban yang benar untuk nama pulau terkecil di dunia adalah Pulau Simping yang berada di Singkawang, Kalimantan Barat.
Picture2Jika menggunakan kendaraan bermobil dari Kota Pontianak menuju Kota Singkawang yang berjarak sekitar 187 km maka akan ditempuh dengan waktu kurang lebih selama 3 (tiga) jam perjalanan dan setibanya di Kota Singkawang nanti jangan lupa menyempatkan diri naik ke bukit yang dinamakan kawasan Rindu Alam untuk dapat melihat indahnya Kota Singkawang dari kejauhan dengan balutan pemandangan yang menakjubkan dengan hamparan pesisir pasir putih yang memanjang sekitar 3 (tiga) km sehingga terkenal dengan nama Pantai Pasir Panjang dan sekaligus sebagai salah satu daerah tujuan wisata paling favorit warga Kalimantan Barat. Setelah itu berikutnya disarankan untuk singgah di tempat wisata baru terkenal lainnya, yang masih di dalam kawasan Sinka Island Park.
Picture3Ditempat ini jugalah ditemukan pulau terkecil didunia, yaitu Pulau Simping. Pulau Simping merupakan daratan yang tediri dari pasir dan bebatuan yang ditumbuhi beberapa pohon di atasnya. Disana juga terdapat semacam Vihara kecil, tempat warga Tionghoa setempat bersembahyang. Di pulau yang terkenal mungil ini tersedia keindahan pemandangan pantai, laut, dan perbukitan yang mengelilinginya, tak heran walaupun sangat kecil, Pulau Simping tak akan pernah sepi dari pengunjung. Kawasan lain yang juga terkenal dalam satu area perairan Bay Teluk Mak Jantu yang merupakan salah satu daerah konservasi alam adalah kebun binatangnya Sinka Zoo yang konon termasuk di dalam 10 (sepuluh) kebun binatang terbaik di Indonesia. Terkejut?
Picture4Selesai dimanja dengan pemandangan alam yang cantik dan mempesona ada baiknya untuk segera melanjutkan perjalanan menuju Kota Singkawang dengan segera agar dapat menikmati tawaran keindahan Kota Singkawang dari dekat. Kota Singkawang adalah sebuah kota di Kalimantan Barat yang memiliki banyak Vihara sehingga di juluki dengan sebutan kota seribu Vihara karena di Kota Singkawang terdapat banyak warga etnis Tionghoa dari suku Hakka/Khek sekitar 42%, selain itu Kota Singkawang juga disebut dengan nama Kota Amoy menilik dari riwayat asal usulnya. Dan selain itu pada setiap tahun acara perayaan Cap Go Meh (hari ke-15 tahun baru Imlek) Kota Singkawang selalu berubah menjadi kota paling meriah di seantero Kalimantan Barat.
Picture5Dalam perayaan Cap Go Meh biasanya dimeriahkan dengan mengarak para Tatung ke Vihara. Tatung adalah orang yang dirasuki roh dewa atau roh para leluhur, para Tatung akan menaiki tangga – tangga yang terbuat dari pedang atau berdiri di ujung tombak pada tandu yang membawanya. Semakin hebat aksi yang ditunjukkan berarti semakin tinggi ilmu Tatung yang dimiliki. Perayaan Cap Go Meh tahunan di Kota Singkawang merupakan pertunjukan yang paling terkenal dan terbesar di kawasan Asia Tenggara hingga saat ini.
Picture6Dengan julukan sebagai Kota Seribu Vihara, Kota Singkawang dipastikan memiliki satu Vihara tertua di Kota Singkawang. Vihara Tri Dharma Bumi Raya adalah Vihara tertua di Kota Singkawang yang diperkirakan berusia 200 tahun. Masyarakat Tionghoa setempat menyebut Vihara Tri Dharma Bumi Raya dengan sebutan Tai Pak Kung (Toa Pekong). Vihara yang terletak di pusat Kota Singkawang ini merupakan salah satu ciri khas dan cikal bakal berdirinya Kota Singkawang. Tahun berdirinya Vihara ini belum dapat dipastikan. Pada tahun 1933, Vihara Tri Dharma Bumi Raya diperluas dan dibangun. Namun pada tahun 1936, Vihara Tri Dharma Bumi Raya sempat terbakar sehingga dilakukan direnovasi kembali. Vihara Tri Dharma Bumi Raya adalah tempat ibadah penduduk Tionghoa yang dipercaya sebagai tempat berdiamnya Dewa Bumi Raya, yaitu Dewa yang oleh etnis Tionghoa dianggap sebagai Dewa yang menjaga Kota Singkawang. Sebagai Vihara tertua di Kota Singkawang, Vihara Tri Dharma Bumi Raya kemudian dijadikan sebagai pusat kegiatan dalam Perayaan Cap Go Meh tiap tahunnya, yaitu perayaan masyarakat Tionghoa yang turun ke jalan pada hari ke-15 tahun baru Imlek. Dalam Perayaan Cap Go Meh berbagai macam Tatung diarak keliling kampung. Di Kota Singkawang, Vihara Tri Dharma Bumi Raya menjadi pusat berkumpulnya berbagai macam Tatung yang bertujuan untuk menyembah para dewa pada Perayaan Cap Go Meh. Berlokasi di Jalan Sejahtera ditengah Kota Singkawang berdekatan dengan Mesjid Raya Singkawang dan Hotel Khatulistiwa I serta Hotel Putra Kalbar I semakin memperkokoh Vihara Tri Dharma Bumi Raya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pusat daya tarik wisatawan yang mengunjungi Kota Singkawang.
Picture7Tips bagi yang ingin mengunjungi Kota Singkawang di waktu Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh (hari ke-15 tahun baru Imlek) lebih baik untuk memesan kamar hotel sekitar 1 atau 2 bulan sebelum event berlangsung karena tingkat hunian hotel pada masa tersebut dipastikan akan penuh, mengingat Kota Singkawang telah masuk dalam Calender Of Event Indonesia sebagai salah satu pusat tujuan wisata budaya Tionghoa.
Sebagai kota yang baru saja mandiri, Kota Singkawang memang nampak sedang berbenah diri disana – sini bersama dengan hadirnya beberapa hotel berbintang. Begitu pula daerah tujuan wisata lain yang berada di dalamnya juga bahu – membahu mempercantik dan mempersolek diri agar menjadi menarik sehingga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan baik dari dalam ataupun luar negeri sekaligus dapat memberikan kesan kenangan tersendiri bagi setiap pengunjung yang datang sehingga hal tersebut dapat membantu mendongkrak masa tinggal wisatawan menjadi lebih panjang selama mereka berada di Kota Singkawang. Dengan hal demikian maka dampak positif dari multi player effect atas usaha wisata yang ada akan dapat segera dirasakan dan dinikmati secara nyata oleh penduduk setempat.
Picture8Belum lagi tambahan dari wisata kuliner yang terkenal enak dan lezat sehingga membuat Kota Singkawang menjadi teramat sangat istimewa bagi para wisatawan yang sedang berkunjung dalam menentukan pilihan makanan yang ada. Salah satunya adalah Bakso 68 yang sudah sangat terkenal diantara penduduk setempat bahkan hingga Kota Jakarta. Jadi sempatkanlah mampir untuk mencobanya. Kenapa dinamakan Bakso 68? setelah mendengar penjelasan arti nama Bakso 68 dari pemilik biasanya para pembeli akan tersenyum kecil apalagi jika mereka pernah berwisata ke salah satu kota di Pulau Jawa karena ingatan pasti akan melayang ke sebuah usaha bakpia di sebuah lokasi bernama Jalan Pathuk di Kota Yogyakarta dimana pemiliknya juga memberi nama dagangannya sesuai nomor rumah yang mereka huni, begitu pula dengan Bakso 68 ini dimana angka 68 adalah nomor rumah dimana tempat mereka tinggal.
Picture9Setelah kenyang dengan Bakso 68, ada tempat kuliner lain yang wajib dicoba selama berada di Kota Singkawang yaitu Rujak Thai Pu Ji. Bagi anda yang mengaku penggemar rujak rasanya harus datang kesini, tempatnya memang cukup sederhana berlokasi di salah sudut pasar yang berada di tengah Kota Singkawang, namun harap bersabar sedikit jika memang telah berminat untuk mecoba rujak ini mengingat pembeli yang antre cukup banyak. Kenapa disebut dengan nama rujak “Thai Pu Ji”? kemungkinan berasal dari lafal kata mandarin chinese yang artinya bibi gemuk. Bibi siapa yang gemuk? Bisa jadi karena tubuh ibu penjualnya yang kebetulan berbadan subur sehingga dagangan diberi nama demikian. Rujak ebi dengan rasa ala khas Kota Singkawang ini cukup spesial sehingga sayang untuk dilewatkan begitu saja. Luar biasa!
Picture10Selain itu masih ada makanan unik lagi khas Kota Singkawang tak lupa untuk dicicipi yaitu Choi Pau Pan, yang artinya kue sayuran, dimana sebuah kue yang di dalamnya berisi sayuran. Choi Pau Pan memiliki isi variasi sayuran yang terdiri dari rebung, buncis, kucai atau daun bawang dan bengkoang selain itu terkadang Choi Pau Pan dicampur dengan udang ebi serta bagian atasnya ditaburi dengan bawang putih goreng sehingga aromanya yang sangat harum menggugah selera. Ukuran makanan khas Kota Singkawang ini hanya pas untuk satu kali suap, terlebih lagi menjadi semakin lezat jika disantap dalam keadaan masih hangat setelah diangkat dari tempat pengukusannya. Biasanya Choi Pau Pan disajikan beralaskan daun pisang agar rasa nikmat dan aroma khas yang ada tetap bersatu dan keluar secara bersamaan dalam sebuah cita rasa pilihan khas Kota Singkawang.
Picture11Serasa tak kuasa lagi dengan perut kenyang setelah mencicipi beberapa makanan pilihan khas Kota Singkawang maka ada baiknya untuk tetap terus melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan wisata alternatif yang relatif masih baru yaitu “Danau Biru” yaitu sekitar 5 – 6 km dari pusat Kota Singkawang yang berlokasi di Jalan Wonosari, Kelurahan Sekip Baru, Kecamatan Singkawang. Menurut sejarahnya Danau Biru ini merupakan sisa dari tambang emas ilegal yang berubah menjadi salah satu tempat wisata dengan tidak disengaja. Memang tidak mirip sekali dengan danau yang sesungguhnya karena Danau Biru tak lebih hanya dari hamparan genangan air berwarna biru saja akan tetapi keindahan beberapa danau yang ada disana serta air danau berwarna biru yang letaknya saling berdekatan tersebut ditambah dengan bentangan pasir putih yang ada disekitarnya akan memberi pesan jika keindahan Danau Biru tidak kalah pula jika dibandingkan dengan tempat objek wisata alam lainnya, meski untuk tiba dilokasi harus ditempuh dengan sedikit usaha ekstra mengingat lokasi objek wisata yang relatif susah dicapai. Namun kerja keras menuju lokasi wisata tersebut akan terbayar lunas setelah tiba dilokasi karena pemandangan sekitar Danau Biru yang cukup mempesona mata dapat segera menghilangkan rasa lelah yang ada. Bila para wisatawan pernah ke berkunjung ke Kawah Putih di Kota Bandung, Jawa Barat maka di Danau Biru ini juga akan ada dijumpai kawah putih meskipun dengan spesifikasi ala Danau Biru, Kota Singkawang tentunya. Satu hal yang perlu diingat bagi pengunjung jika tempat adalah ini bekas tambang emas ilegal yang penggaliannya menggunakan cairan zat mercuri yang dikhawatirkan kandungannya masih tersisa sehingga jangan sekali – kali mencoba untuk minum, mandi atau berenang di dalam Danau Biru tersebut karena sangat berbahaya meskipun Kepala Dinas Kesehatan Kota Singkawang, H. Nurmansyah pada tahun 2011 lalu mengatakan jika hasil penelitian dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Singkawang dan Balai Reset serta Standarisasi Industri Pontianak menyatakan jika permukaan air Danau Biru masih dibawah ambang batas persyaratan kualitas air minum yakni 0,001 oleh karenanya dengan mengacu kepada “Permenkes 492/Menkes/Pes/IV/2010 dan PP no. 18/ 1999” maka bahwa air masih dalam keadaan normal.
Picture12Selesai menikmati Danau Biru dan berkeliling kota sehari penuh disarankan bagi wisatawan untuk beristirahat sejenak sebelum menikmati makan malam di Kota Singkawang. Hotel Mahkota Singkawang adalah pillhan bijak dan terbaik sebagai tempat bermalam karena dengan tawaran pilihan kamar yang ada maka para pelancong tidak akan merasa keberatan atas harga kamar yang ada. Hotel Mahkota adalah hotel berbintang 3 (tiga) satu – satunya dengan dukungan fasilitas yang cukup memadai, hotel ini memang cukup berumur akan tetapi masih dapat dikatakan lumayan baik dari sisi perawatan dan kenyamanannya. Hotel yang berlokasi di Jalan Diponegoro No. 1 ini tereletak tepat di pusat Kota Singkawang sehingga hingar bingar live music serta suara merdu sang biduan dan alunan piano dari lobby lounge hotel tersebut pada setiap malamnya bagaikan memberi sambutan hangat kepada setiap tamu atau pengunjung yang datang ketika mereka memasuki area hotel setelah seharian berwisata di Kota Singkawang.
Hingga pada akhirnya malam menjelang dan tak lengkap rasanya bila tidak menikmati suasana malam di Kota Singkawang sebelum meninggalkan esok hari. Tidak berbeda jauh dengan Kota Pontianak memang dimana terdapat beberapa tempat berkumpul warga lokal yang kami lewati seperti warung kopi misalnya. Tidak cukup banyak yang bisa dicari pada malam hari di Kota Singkawang selain wisata kuliner malamnya, dan pilihan makanan lezat salah satu untuk dinikmati adalah sotong kangkung dimana salah satu lokasi penjualnya yang terkenal adalah terdapat di depan pasar daging di Kota Singkawang. Sotong atau Ikan “Nus” adalah binatang yang hidup diperairan, baik di sungai, laut atau danau. Sotong atau Ikan “Nus” adalah termasuk makanan sejenis seafood. Hanya dengan menggunakan kangkung dan sotong sebagai bahan utama masakan, serta kacang goreng tanah yang telah ditumbuk halus maka proses pembuatannya dapat segera dilakukan karena tidak terlalu sulit. Dengan kangkung yang dipergunakan untuk memasak adalah kangkung pilihan, dan kangkung yang akan dipergunakan untuk memasak akan dicuci bersih sebelum dipotong dengan ukuran kecil kemudian direndam ke air panas mendidih beberapa saat hingga lembut, lalu kangkung diangkat dan ditiriskan untuk disajikan dalam piring, begitu pula dengan sotong yang sudah direbus serta direndam dalam air panas mendidih beberapa saat itupun diambil lalu dipotong memanjang tipis – tipis lalu diletakkan dibagian atas kangkung dan ditaburi dengan kacang tanah goreng yang telah ditumbuk halus setelah itu baru disiram dengan kuah kanji dengan rasa asam dan manis yang dibuat dari asam jawa serta sedikit tambahan kecap ikan dibagian atasnya. Selain itu dapat ditambahkan juga cabai rawit giling jika ingin ada sensasi rasa pedas yang dicampur dengan air dan cuka tanpa garam atau bawang putih sehingga rasa pedas yang ada terasa tajam dan mantap.
Tanpa terasa wisata kuliner malam hari saat ini adalah prosesi akhir dari rangkaian wisata di Kota Singkawang sebelum kembali ke kota asal. Kunjungan singkat di Kota Singkawang, Kota Seribu Vihara dan Kota Amoy terasa sudah lengkap dengan berbagai hal yang telah dicoba sejak pertama kali tiba di kota ini. Mungkin lain kali kesempatan akan datang kembali pada saat event Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh yang diadakan pada setiap tahunnya. Dan memang sejak tahun 1834 saat George Windsor Earl (English navigator & Author of works on the Indian Archipelago) menulis kata ‘Sinkawan’ dalam bukunya ‘The Eastern Seas’, nama Singkawang semakin populer. Kata Singkawang sendiri berasal dari nama tanaman di hutan tropis sekitar, yaitu “TENGKAWANG”. Pedagang dan pelaut China menyebutnya dengan “San Keuw Jong” (Shankou Yang), atau Sungai Mulut Gunung. Memang faktanya adalah jika sungai Singkawang yang berdelta menjadi waterfront di sore hari membelah kota terus ke pedalaman yang bergunung. Kota Singkawang adalah tujuan ideal bagi wisatawan yang mengharapkan teduhnya kedamaian di bawah atap rumah – rumah pecinan dan gambar akan kepolosan bersihnya penduduk setempat untuk diabadikan serta dibagikan sebagai cenderamata dunia kepada setiap masyarakat internasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar